Sabtu, 29 Januari 2011

3 ciri - ciri anak sehat dengan melihat perkembangan ukuran kepala mereka

PENGUKURAN fisik atau antropometri diperlukan untuk memantau proses tumbuh kembang buah hati. Ada tiga pengukuran fisik yang dilakukan terhadap anak sejak dilahirkan. Yakni, berat-panjang badan, lingkar kepala, dan status gizi. Semuanya berdasar umur. ''Semua indikator tersebut saling menunjang. Bukan berat badan saja yang diperhatikan,'' kata dr Hartoyo SpA.

Spesialis anak dari RS Husada Utama Surabaya itu mengatakan, orang tua sering salah kaprah memonitor pertumbuhan si kecil. Mereka menganggap, berat badan sebagai satu-satunya indikator anak sehat.

Pertumbuhan berat badan harus linier dengan tinggi badan. ''Pemeriksaan lingkar kepala bisa menunjukkan perkembangan otak dan mendeteksi penyakit tertentu,'' ucapnya. Sayang, pemeriksaan lingkar kepala itu justru luput dari perhatian orang tua.

Hartoyo menyarankan, pengukuran lingkar kepala dilakukan secara rutin. Untuk anak berusia kurang dari setahun, pemeriksaan sebaiknya dilakukan setiap bulan. Nah, bagi anak berusia lebih dari dua tahun, pemeriksaan dilakukan setiap dua bulan.

Caranya cukup mudah. Alat yang digunakan adalah pengukur lingkar kepala. Alat begini tersedia di toko peralatan medis. Posisikan alat tepat di atas alis dan telinga bayi. Cantumkan hasilnya pada kurva yang ada pada kartu menuju sehat (KMS) dan amati secara berkala. Apabila garis berada di dalam grafik, artinya lingkar kepala normal. Namun, bila di luar grafik, mungkin anak akan mengalami makrosefali (kepala besar) atau mikrosefali (kepala kecil).

Sebaiknya, perkembangan kepala bayi saat usia kurang dari dua tahun tak lebih dari 1,5 cm per bulan. Jika ukuran kepala bayi membesar terlalu cepat, mungkin anak menderita hidrosefalus. ''Jika ukuran lingkar kepala tak tumbuh-tumbuh, dikhawatirkan anak menderita mikrosefali,'' ujarnya.

Hidrosefalus secara teoritis

hal ini terjadi sebagai akibat dari tiga mekanisme yaitu:
1. Produksi likuor yang berlebihan
2. Peningkatan resistensi aliran likuor
3. Peningkatan tekanan sinus venosa
Sebagai konsekuensi dari tiga mekanisme di atas adalah peningkatan tekanan intrakranial sebagai upaya mempertahankan keseimbangan sekresi dan absorbsi. Mekanisme terjadinya dilatasi ventrikel masih belum dapat dipahami secara terperinci, namun hal ini bukanlah hal yang sederhana sebagaimana akumulasi akibat dari ketidakseimbangan antara produksi dan absorbsi. Mekanisme terjadinya dilatasi ventrikel cukup rumit dan berlangsung berbeda-beda tiap saat selama perkembangan hidrosefalus. Dilatasi ini terjadi sebagai akibat dari :
1. Kompresi sistem serebrovaskuler
2. Redistribusi dari likuor serebrospinalis atau cairan ekstraseluler atau keduanya di dalam sistem susunan saraf pusat
3. Perubahan mekanis dari otak (peningkatan elastisitas otak, gangguan viskoelastisitas otak, kelainan turgor otak)
4. Efek tekanan denyut likuor serebrospinalis (masih diperdebatkan)
5. Hilangnya jaringan otak
6. Pembesaran volume tengkorak (pada penderita muda) akibat adanya regangan abnormal pada sutura kranial.
Produksi likuor yang berlebihan hampir semua disebabkan oleh karena tumor pleksus khoroid (papiloma atau karsinoma). Adanya produksi yang berlebihan akan menyebabkan tekanan intrakranial meningkat dalam mempertahankan keseimbangan antara sekresi dan resorbsi likuor, sehingga akhirnya ventrikel akan membesar. Adapula beberapa laporan mengenai produksi likuor yang berlebihan tanpa adanya tumor pada pleksus khoroid, di samping juga akibat hipervitaminosis A.
Gangguan aliran likuor merupakan awal dari kebanyakan kasus hidrosefalus. Peningkatan resistensi yang disebabkan oleh gangguan aliran akan meningkatkan tekanan likuor secara proporsional dalam upaya mempertahankan resorbsi yang seimbang. Peningkatan tekanan sinus vena mempunyai dua konsekuensi, yaitu peningkatan tekanan vena kortikal sehingga menyebabkan volume vaskuler intrakranial bertambah dan peningkatan tekanan intrakranial sampai batas yang dibutuhkan untuk mempertahankan aliran likuor terhadap tekanan sinus vena yang relatif tinggi.
Konsekuensi klinis dari hipertensi vena ini tergantung dari komplians tengkorak. Bila sutura kranial sudah menutup, dilatasi ventrikel akan diimbangi dengan peningkatan volume vaskuler; dalam hal ini peningkatan tekanan vena akan diterjemahkan dalam bentuk klinis dari pseudotumor serebri. Sebaliknya, bila tengkorak masih dapat mengadaptasi, kepala akan membesar dan volume cairan akan bertambah.
Derajat peningkatan resistensi aliran cairan likuor dan kecepatan perkembangan gangguan hidrodinamik berpengaruh pada penampilan klinis.

Terapi Hidrosefalus



Pengobatan hidrosefalus (kepala yang membesar) kadang tidak terjangkau oleh masyarakat. Kini dengan alat baru berupa sistem pirau katup semilunar, biaya terapi bisa ditekan lebih murah.

Penyakit hydrocephalus/hidrosefalus (kepala yang membesar) terjadi karena penumpukan cairan di dalam otak anak. Kelebihan cairan dalam otak ini memampatkan daerah di sekitarnya sehingga terjadi kerusakan otak dan jika tidak segera diatasi bisa berakibat fatal.
Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr.dr. P. Sudiharto, Sp.BS menemukan alat terapi untuk penderita hidrosefalus yang dikenal dengan nama sistem pirau katup semilunar. Dia juga salah satu dari orang orang peraih Anugerah Hamengku Buwono IX 2009 yang diberikan saat Dies Natalis UGM ke 60.

Alat yang baru dipatenkan September 2009 ini telah dikembangkan Sudiharto sejak 1978. Sampai saat ini alat itu telah dipasang kurang lebih pada 7.000 pasien hidrosefalus. Pasien tersebut mempunyai berbagai macam penyebab, mulai dari bayi berumur 11 hari sampai dengan orang tua berusia 65 tahun.

"Salah satu pasien yang saya pasang dari umur 3 bulan, kini sudah umur 15 tahun. Dia sudah duduk kelas 3 SMP di Yogyakarta. Dia juga cukup berprestasi, masuk rangking 10 di kelasnya," kata Sudiharto kepada wartawan, di Kantor KPTU FK UGM di Bulaksumur, Yogyakarta, Senin (21/12/2009).

Menurut dia, penggunaan sistem katup semilunar buatannya bermanfaat bagi masyarakat dari menengah ke bawah. Harganya jauh lebih murah dibanding alat buatan luar atau impor.

"Harganya berkisar Rp 1,5-1,7 juta jauh lebih terjangkau daripada alat buatan impor bisa mencapai Rp 40 juta," kata Sudiharto didampingi Dekan FK UGM Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc, Ph.D.

Menurut dia, disain buatannya juga dapat disesuaikan dengan umur dan jenis penyakit pasien. Sedang dari segi ketahanan sistem pirau dapat mencapai lebih dari 25 tahun. Kebanyakan pasien yang telah memanfaatkan alat terapi ini berasal dari Yogyakarta, Purwokerto, Tanggerang, Semarang, Bogor, dan Medan.

Selain penderita hidrosefalus kata dia, pompa yang dipasang di dalam otak melalaui bedah saraf ini mampu mengurangi cairan otak hingga setengah volume awal. Alat ini juga bisa dimanfaatkan dan dibutuhkan oleh pasien penyakit stroke, trauma kepala akibat kecelakaan, tumor otak, radang otak yang memiliki gejala sama.

"Katup semilunar ini juga pernah dipasang kepada orang dewasa. Seorang professor sudah saya pasang alat ini. Sebab hidrosefalus juga bisa menyerang orang dewasa," katanya.

Sementara itu Dekan FK UGM Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc Ph.D menambahkan hasil karya staf pengajar FK UGM ini sangat membantu untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Hasil temuan Sudiharto merupakan teknologi kesehatan modern yang bersifat humanistik.

Cara Mencegah Hidrosefalus

Untuk menghidari terjadinya hidrosefalus, dapat dilakukan sejak sebelum menikah dengan memeriksakan kesehatan kedua calon pengantin. Selanjutnya, selama kehamilan, lakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur ke dokter agar diketahui kesehatan janinnya dan kemungkinan terjadinya hidrosefalus.
Pada masa bayi dan balita, (hidrosefalus-red) sering terjadi akibat infeksi otak yang mengganggu lalu lintas cairan otak (cerebrospinal) karena TBC otak atau infeksi bakteri, virus, jamur. Mungkin juga karena tumor di otak. Oleh karena itu, pemeriksaan tumbuh-kembang anak secara periodik, seperti mengukur lingkar kepala, dapat sebagai alat deteksi dini yang paling mudah untuk mengetahui terjadinya hidrosefalus. Apabila ukuran lingkar kepala lebih dari kurva normal, bisa segera diperiksakan ke dokter anak.

Senin, 17 Januari 2011

Prognosis Hidrosefalus

Prognosis untuk individu didiagnosis dengan hidrosefalus adalah sulit di deteksi. Meskipun ada beberapa hubungan antara penyebab spesifik dari hidrosefalus dan hasilnya. Prognosis lebih rumit dengan adanya gangguan yang berkaitan, ketepatan waktu diagnosis dan keberhasilan pengobatan. Tingkat yang lega tekanan CSF berikut operasi shunt dapat menggurangi atau membalikkan kerusakan otak belum dipahami dengan baik.

Terkena individu dan keluarga mereka harus menyadari bahwa hidrocefalus beresiko tehadap perkembangan baik kognitif dan fisik. Namun, banyak anak didiagnosis dengan gangguan manfaat dari terapi rehabilitasi dan intervensi pendidikan dan pergi untuk menjalani kehidupan normal dengan beberapa batasan. Perawatan oleh tim interdisipliner profesional medis, spesialis rehabilitasi, dan ahli pendidikan sangat penting untuk hasil yang positif. Waktu diobati, Hidrocefalus progresif dapat berakibat fatal.

Gejala hidrosefalus tekanan normal biasanya betambah buruk dari waktu ke waktu ika kondisi tidak diobati, meskipun beberapa orang dapat mengalami perbaikan sementara. Sedangkan keberhasilan pengobatan dengan shunt bervariasi dari orang ke orang, beberapa orang sembuh hamir sepenuhnya setelah perawatan dan memiliki kualitas hidup yang baik.

Rabu, 12 Januari 2011

Kemungkinan Saat Terjadi Komplikasi Pada sistem Shunt

Komplikasi yang mungkin termasuk kegagalan mekanis, infeksi, hambatan, dan kebutuhan untuk memperpanjang atau mengganti kateter. Umumnya sistem shunt membutuhkan pemantauan dan teratur mdis tindak lanjut. Ketika terjadi komplikasi, sistem shunt biasanya memerlukan beberapa jenis revisi.

Beberapa komplikasi dapat menyebankan masalah lain seperti overdraining. Overdraining terjadi ketika shut memungkinkan CSF mengalir dari ventrikel lebih cepat daripada diproduksi. Overdraining dapat menyebabkan ventrikel runtuh, merobek pembuluh darah dan menyebabkan sakit kepala, pendarahan (hemetoma subdural), atau vertikel seperti celah (sindrom vertikel celah). Selain gejala umum hidrosefalus, infeksi dari shunt juga bisa menghasilkan gejala-gejala seperti demam ringan, rasa sakit pada otot=otot lehar atau bahu, dan kemerahan atau kelembutan sepanjang saluran shunt. Bila ada alasan untuk mencurugai bahwa sistem shunt tidak berfungsi sebagaimana mestinya (misalnya gejala kembali hidrosefalus), perhatian medis harus dicari segera.

Pengobatan Untuk Hidrosefalus Untuk Saat Ini

Cara yang paling sering d pakai dengan pembedahan memasukkan sistem shunt. Sistem ini mengalihkan aliran CSF dai SPP ke area tubuh di tempat yang dapat diserap sebagai bagiab dari proses peredaran normal. Shunt adalah tabung plastik fleksibel namn kokoh. Sebuah sistem terdiri dari shunt-shunt, kateter, dan katub. Salah satu ujung kateter di tempatkan dalam vertikel dalam otak atau di CSF luar sum sum tulang belakang. Ujung lain dari kateter umumnya ditempatkan dalam rongga perut, tetapi juga dapat ditempatkan dilokasi lain dalam tubuh seperti kamar jantung dan daerah sekitar paru-paru dimana CSF dapat mengalir dan diserap. Sebuah katub terltak di sepanjang keteter mempertahankan aliran satu arah dan mengatur laju aliran CFS.

Tidak semua orang dapat diobati dengan prosedur alternatif disebut ventriculostormy ketiga. Dalam prosedur ini, neuroendoscope atau kamere kecil yang menggunakan teknologi serat optik untuk memvisualisasikan kecil dan sulit untuk mencapai aerah-daerah bedah memungkinkan dokter untuk melihat permukaan vertikel. Selain lingkup di pandu ke posisi alat kecil membuat lubang kecil dilantai vertikel III, yang memungkinkan cf untuk melewati obstruksi dan aliran menuju lokasi resorpsi sekitar permukaan otak.